BANGKINANG KOTA – Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar secara resmi menggelar Pertemuan Koordinasi Penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP) dan Layanan Sekunder. Kegiatan strategis ini berlangsung selama tiga hari, Rabu–Jumat (20–22 Mei 2026), bertempat di Aula Stanum Bangkinang.
Pertemuan ini dihadiri oleh pengelola program di bidang teknis maupun manajerial di lingkungan Dinkes Kampar, dengan menghadirkan narasumber langsung dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI untuk membimbing praktik teknis pada hari berikutnya secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar, dr. Imawan Hardiman, Sp.DVE, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan di kawasan Stanum ini, yang berjalan selaras dengan arahan Bupati Kampar. Ia menekankan bahwa pemilihan lokasi ini merupakan bagian dari komitmen dinas untuk mendukung optimalisasi dan pemanfaatan fasilitas yang dikelola oleh Perusahaan Daerah (Perumda) Kampar, sekaligus menggerakkan potensi aset lokal. Di samping itu, ia menegaskan bahwa transformasi kesehatan yang tengah digulirkan bukan sekadar rutinitas, melainkan amanat besar dari Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023.
"Transformasi kesehatan yang kita jalankan saat ini merupakan perubahan besar. Bukan hanya dalam struktur layanan, tetapi juga dalam cara pandang kita terhadap pelayanan kesehatan. Setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan yang adil, merata, bermutu, dan berkelanjutan," ujar dr. Imawan.
Menghapus Sekat Program, Mengawal Siklus Hidup
Dalam arahannya, dr. Imawan menekankan pentingnya membangun soliditas internal dan membuang jauh-jauh ego sektoral antarprogram. Selama ini, pelayanan sering kali terfragmentasi atau terpisah-pisah berdasarkan program masing-masing, yang berdampak pada tumpang tindih administrasi dan beratnya beban kerja di lapangan.
Melalui penerapan ILP, paradigma tersebut diubah secara total. Pelayanan kesehatan kini diberikan secara terpadu dan berkesinambungan berdasarkan siklus kehidupan manusia mulai dari masa kehamilan, bayi, anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia (lansia). Saat ini, sistem ILP telah berjalan di seluruh Puskesmas di Kabupaten Kampar, didukung oleh penguatan peran Posyandu di tingkat komunitas serta peningkatan mutu di fasilitas kesehatan (faskes) rujukan baik RSUD maupun RS. Swasta.
"Puskesmas adalah garda terdepan kita untuk mencegah penyakit agar tidak menjadi lebih parah. Pencegahan itu jauh lebih baik, dan di garda terdepan inilah kita melakukan perbaikan sistemik. Sejalan dengan itu, hubungan dan koordinasi dengan fasilitas kesehatan rujukan seperti RSUD juga harus semakin baik dan solid, sehingga alur pelayanan dari tingkat dasar ke tingkat lanjutan dapat terintegrasi tanpa hambatan," tambah dr. Imawan.
Pertemuan intensif ini difokuskan untuk mengintervensi sasaran prioritas secara ketat:
- Percepatan penurunan stunting
- Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (PTM)
- Percepatan capaian program Strategis Nasional Cek Kesehatan Gratis (CKG)
- Pencapaian target Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan
RME: Kunci Digitalisasi dan Data yang Akurat
Salah satu poin krusial dalam keberhasilan ILP adalah penguatan sistem informasi melalui pemanfaatan Rekam Medis Elektronik (RME). Dr. Imawan menjelaskan bahwa RME bukan sekadar lembaran catatan digital pengganti kertas, melainkan instrumen penting untuk menghubungkan riwayat pelayanan pasien lintas waktu dan lintas fasilitas.
Dengan RME, data kesehatan pasien akan terintegrasi secara real-time, faktual, terpercaya, dan dapat dibagipakaikan antar faskes. Data ini nantinya menjadi dasar kuat bagi pengambilan keputusan strategis, mulai dari tingkat Puskesmas, Dinas Kesehatan, Pemerintah Daerah, Provinsi, hingga ke level Pemerintah Pusat.
Di akhir sambutannya, dr. Imawan menginstruksikan kepada seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan dan bimbingan teknis ini dengan serius. "Ikuti kegiatan ini dengan baik, pahami teknis pengisian RME dan digitalisasi data ini. Kita harus memastikan data yang disajikan betul-betul akurat agar intervensi kebijakan di lapangan bisa tepat sasaran," tegasnya.
Pemaparan Kabid Kesprimkom: Mengurai Komponen dan Tantangan Operasional ILP
Menyambung arahan Plt. Kadikes, Kepala Bidang Kesehatan Primer dan Komunitas (Kesprimkom) Dinkes Kampar, Poppy Rahmadini, SKM., M.Si, memberikan pemaparan komprehensif mengenai peta jalan, kendala lapangan, hingga detail struktur operasional ILP yang kini wajib diterapkan.
Poppy menjelaskan bahwa esensi utama dari pertemuan integrasi ini adalah menyatukan visi, memperkuat kolaborasi, serta merumuskan tujuan bersama. "Kita ingin memastikan bahwa seluruh jajaran lintas program dan lintas bidang di internal Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar memiliki pemahaman dan sudut pandang yang sama, sehingga pelaksanaan kebijakan di tatanan sehari-hari menjadi kokoh dan seirama," jelasnya.
Lebih lanjut, Poppy mengurai tantangan nyata yang dihadapi sistem pelayanan kesehatan saat ini. Menurutnya, tanpa adanya integrasi yang kuat, faskes rawan terjebak dalam fragmentasi layanan akibat ego sektoral. Dampak buruknya adalah terjadinya tumpang tindih program kerja yang berujung pada beban administrasi yang jauh lebih berat bagi para petugas kesehatan di lapangan.
Sebagai solusi sistemik, Poppy memaparkan 4 Pilar Klaster Pelayanan ILP yang menjadi acuan baru tata kelola di Puskesmas, yaitu:
- Klaster 1: Manajemen (Mengatur tata kelola, perencanaan, logistik, dan evaluasi mutu faskes).
- Klaster 2: Ibu dan Anak (Fokus pada pelayanan kesehatan ibu hamil, melahirkan, nifas, bayi, balita, dan pra-sekolah).
- Klaster 3: Dewasa dan Lansia (Fokus pada skrining usia produktif, penanganan PTM, dan pemeliharaan kesehatan lanjut usia).
- Klaster 4: Lintas Klaster (Meliputi pelayanan penunjang penanganan penyakit seperti laboratorium, kefarmasian, gawat darurat, dan ketahanan bencana).
Ia juga menggarisbawahi empat faktor penentu keberhasilan implementasi ILP di Kabupaten Kampar, antara lain:
- Tata Kelola Puskesmas dan Jejaring: Penguatan manajemen internal hingga ke jejaring faskes terkecil di tingkat desa.
- Sinergi Lintas Sektor: Penyelarasan arah kebijakan antara sektor kesehatan dengan pemerintahan desa dan instansi terkait.
- Pemanfaatan Digitalisasi: Optimalisasi teknologi informasi kesehatan yang terpadu.
- Peningkatan Kapasitas SDM: Penguatan kompetensi petugas, baik dari sisi teknis program kesehatan maupun kemampuan manajerial.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Melalui pengorganisasian berbasis klaster dan inter koneksi RME ini, masyarakat Kampar akan mendapatkan peta pelayanan yang jauh lebih terarah dan responsif. Poppy mencontohkan bagaimana data real-time ini bekerja secara langsung di tengah masyarakat.
"Dengan data digital yang terintegrasi, tim kesehatan di tingkat primer dan sekunder dapat mendeteksi serta melacak kantong-kantong stunting dan kantong penyakit TBC (Tuberkulosis) dan lainnya secara cepat dan presisi di setiap wilayah desa," ungkap Poppy.
"Sinergi adalah energi kita. Melalui momentum ini, mari kita menyatukan visi, memperkuat kolaborasi, serta merumuskan tujuan bersama. Satu arah kebijakan, satu integrasi data, demi satu tujuan mulia: meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kampar." Tutup Poppy.
Publikasi ini disiarkan oleh : Media Informasi dan Humas Dinkes
